Menenggelamkan Diri
dalam Keterpukauan Sejarah
Membaca dua esai karya John Horgan serta Lawrence M. Krauss dkk, membawa kita pada sebuah keterpukauan sejarah. Secara memukau, Horgan banyak mengeksplorasi keunggulan sosok fisikawan terkemuka, Albert Einstein (1879-1955). Sosoknya diagung-agungkan sebagai peletak dasar-dasar ilmu pengetahuan alam khususnya fisika. Sementara Krauss memuja fisika sebagai buah sains yang juga tak lepas dari sosok Einstein tentunya.
Melalui teori relatifitasnya, saintis kelahiran Jerman ini diakui atau tidak memang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan selanjutnya. Menurut Einstein, setiap benda-benda bergerak mengandung relatifitas waktu. Benda-benda yang bergerak dengan kecepatan berbeda selalu memiliki perbedaan waktu. Taruhlah kalau seorang astronot pergi naik pesawat ruang angkasa yang mencapai kecepatan 0.999 kali kecepatan cahaya maka 10 bulan bagi sang astronot sama dengan 18 tahun bagi manusia dibumi. Kalau waktu berangkat istri sang astronot baru melahirkan anak perempuan, maka setelah sang astronot pulang dari perjalanannya selama 10 bulan, ia dapati anak perempuannya telah menjadi gadis remaja umur 18 tahun.
Horgan bahkan menyebut hasil kecemerlangan penelitian Einstein sebagai fisika dasar yang memiliki dimensi tertinggi sebagai sebuah bangunan teori. Sebagai gambarannya, hingga saat ini permasalahan-permasalahan fisika yang terdalam pun masih berakar pada teori gravitasi dan mekanisme kuantum , yang tak lain merupakan temuan besar Einstein.
Hukum Newton, teori relativitas dan teori kuantum merupakan bangunan konsep atau ide tentang fenomena fisika yang disusun berdasarkan cara atau proses tertentu. Cara atau proses ini disebut metoda saintifik. Metoda saintifik inilah satu-satunya tumpuan para saintis dalam berupaya menghampiri dan mengenali realitas fisik, serta membangun teori tentangnya.
Teori saintifik pada hakikatnya merupakan model bagi dunia nyata, dan ide-ide sains berkenaan dengan model tersebut, bukan dengan dunia nyata. Istilah penemuan (discovery), misalnya, merujuk pada hubungan matematika yang berhasil diungkap. Penemuan itu sendiri perlu didasarkan pada pengamatan terhadap fenomena alam, dan penalaran induktif. Berdasarkan data-data khusus, saintis berusaha membangun teori yang umum melalui proses penyimpulan induktif tersebut.
Memang terdapat jurang pemisah antara sebuah model dengan realitas yang diwakili model ini. Saintis bahkan tidak pernah tahu, sebarapa tepat model itu menggambarkan realitas. Namun, sepanjang model itu cukup bersesuaian dengan hasil pengamatan eksperimental, kita bisa cukup yakin akan keabsahan model tersebut.
Krauss mencoba mensejajarkan keagungan karya Einstein dengan fisikawan sebelumnya seperti Newton dan Archimedes. Namun dalam konteks fisika kontemporer, dia juga tak mampu mengelak bahwa Einstein lah yang paling banyak berpengaruh. Dengan kata lain secara epistemologis Krauss telah dibutakan dan gagal menyingkap rahasia keilmuan lain pasca Einstein. Krauss berhenti disini.
Nirwan Ahmad Arsuka dalam esainya berjudul Perang Ilmu; Nostalgia Kosmis, mengemukakan kritik menarik. Menurutnya, tugas ilmuwan adalah menuntaskan apa-apa yng menjadi impian ilmu. Tugas fisikawan menuntaskan impian fisika, begitu seterusnya. Arsuka berpendapat, saint harus terus berjalan maju kedepan. Sains tidak boleh mandeg di tengah kegemilangan sekalipun. Kewajibannya adalah menemukan teori-teori termutakhirnya.
Sikap mengagung-agungkan seperti yang dilakukan Horgan dan Krauss tentu bukanlah fenomena baru dalam dunia ilmu pengetahuan. Sikap serupa juga menjadi tradisi tak tertulis di kalangan ilmuwan-ilmuwan era modern. Nilai-nilai orisinalitas, otonomitas, dan integritas suatu ilmu pengetahuan dengan sendirinya memunculkan kewajiban akan adanya saling penghormatan satu sama lain sesama ilmuwan. Dalam konsep masyarakat, penghormatan akan karya dan hak-hak orang lain adalah keniscayaan.
Diluar pengagung-agungan itu, yang tidak boleh dilupakan, tradisi lain keluarga ilmuwan yang penting adalah sikap kritis dan saling mengoreksi dengan bantahan-bantahan ilmiah yang menghantam satu sama lain. Dengan segala batasan-batasan kajiannya, sebuah teori akan menjadi mapan dan tak cepat lapuk oleh zaman, ketika ia sudah melewati batu ujian. Dan tradisi kritis untuk saling mengoreksi itulah batu ujiannya.
Yang sedikit mengkhawatirkan, belakangan positivisme telah membuat kedua tradisi kelimuan ini berjalan kurang berimbang. Orang kemudian cenderung lebih mendahulukan pengagungan daripada kritik yang membangun. Keterpukauan sepertinya telah bergerak lebih maju menjadi pola baru menghidupkan tradisi kelimuan. “Keterpukauan” bagi saya menjadi istilah yang tepat menggambarkan posisi epistemik kedua penulis esai diatas. Istilah ini semena-mena saya ambil dari salah satu esai Karlina Supelli yang pernah diterbitkan Kompas pada 2002 berjudul “Sebuah Perang untuk Keterpukauan”. Saya sependapat dengan beliau bahwa (*)
________________
0 Tanggapan ke “Yang Lain Memukauku”