Tugas Pengantar Kuliah
Mata Kuliah Filsafat Ketuhanan
Oleh Didik Suyuthi
- Fakta kejahatan yang dilakukan oleh manusia merupakan masalah bagi iman. Alasannya, Alah dengan segala kemahasucian-Nya pasti membenci yang namanya kejahatan. Yang menjadi masalah, jika tindakan jahat manusia memang bisa dibuktikan adanya di muka bumi ini, lalu mengapa Allah seolah tidak berkuasa mencegahnya?
Disinilah sebenarnya letak perbedaan pandangan tentang pengertian dan maksud ‘jahat’ antara Allah dan manusia. Manusia jelas memahami kejahatan sebagai buah dari yang bukan baik. Sementara Allah mungkin masih memiliki motivasi lain dibalik mengapa dia cenderung ‘mengizinkan’ berlangsungnya kejahatan.
Dalam term ini kebebasan manusia untuk berbuat baik atau jahat sejajar dan berhadapan langsung dengan kemahakuasaan Allah. Bisa dikatakan, Allah membiarkan manusia berbuat jahat meski dia sendiri menolaknya. Allah telah mengambil resiko besar dengan memberikan kebebasan kepada manusia. Resikonya, manusia bisa menolak keimanannya atas Allah, tetapi dengan akal budinya manusia bisa juga mengakui dan mengikuti kemahabesaran-Nya.
- Sama halnya dengan fakta tentang berlangsungnya kejahatan di muka bumi, demikian juga dengan fakta penderitaan. Kita semua tahu agama apapun muncul dengan sebuah pesan agung dari tuhan untuk membahagiakan dan mensejahterakan umatnya. Namun faktanya tidak sedikit manusia yang dalam hidupnya sehari-hari religius tetapi ia dan keluarganya tetap saja menderita. Benarkah Allah maha belas kasih?
Untuk menjawab pertanyan ini, teologi barangkali bisa lebih akurat dalam menjelaskan. Ada sekian jawaban diberikan teologi terkait penderitaan. Penderitaan bisa dimaknai sebagai hukuman, cobaan, atau bahkan cara Allah untuk memurnikan hati manusia. Lalu apa jawaban filsafat? Menurut Leibniz, penderitaan dan keburukan mutlak terjadi sebagai penanda sekaligus pembeda bahwa manusia dan segala makhluk ciptaan Allah tidak memiliki kesempurnaan yang hakiki. Jadi kemungkinan untuk menderita atau ditimpa keburukan harus bisa diterima sebagai kodrat manusia. Dengan demikian, mengenai masalah penderitaan, penjelasan filsafat memang kurang begitu memuaskan. Disinilah filsafat juga terbatas.
0 Tanggapan ke “Frans; Teolog atau Filsuf”